๐ŸŒ™ Al Kalam #9 ๐Ÿ“– Mengapa Wahyu Pertama Adalah "Iqra'"?


Bismillahirrahmanirrahim 

๐ŸŒ™ Al Kalam #9

(Artikel Kamis Malam : Serial Parenting Tauhid)

๐Ÿ“– Mengapa Wahyu Pertama Adalah "Iqra'"?

Membangun Budaya Literasi yang Mengantarkan Keluarga Semakin Dekat kepada Allah

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan."

(QS. Al-'Alaq: 1)

Pendahuluan

Pernahkah kita bertanya, mengapa Allah memulai turunnya wahyu dengan satu kata yang begitu singkat, tetapi memiliki makna yang sangat besar: Iqra' (Bacalah)?

Padahal manusia memiliki banyak kebutuhan. Ada yang membutuhkan makanan, pakaian, kesehatan, keamanan, bahkan kekuatan. Namun ketika Allah memulai risalah Islam kepada Nabi Muhammad ๏ทบ, bukan perintah makan, bekerja, berdagang, ataupun memimpin yang pertama kali Allah turunkan.

Allah memilih satu kata:

Iqra'.

Pilihan ini tentu bukan tanpa hikmah.

Iqra' adalah pintu ilmu. Ilmu adalah jalan menuju pengenalan kepada Allah. Dan mengenal Allah adalah tujuan terbesar kehidupan seorang hamba.

Karena itulah, budaya membaca dalam Islam bukan sekadar kebiasaan intelektual, tetapi bagian dari ibadah yang mengantarkan seorang muslim semakin dekat kepada Rabb-nya.

Di tengah liburan sekolah, kita memiliki kesempatan yang sangat berharga. Liburan bukan hanya waktu untuk beristirahat atau bermain, tetapi juga waktu terbaik untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap ilmu dan membaca.

Bahkan satu halaman yang dibaca bersama Ayah dan Bunda dapat menjadi awal lahirnya budaya literasi di dalam rumah.

Ketika Jibril Memerintahkan "Bacalah"

Saat Nabi Muhammad ๏ทบ berada di Gua Hira, Malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama.

Beliau berkata,

"Iqra'."

Nabi ๏ทบ menjawab,

"Aku tidak dapat membaca."

Peristiwa itu terulang hingga akhirnya Allah menurunkan lima ayat pertama Surah Al-'Alaq.

Yang menarik untuk direnungkan, Allah tidak hanya memerintahkan membaca.

Allah berfirman:

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan."

Artinya, membaca dalam Islam tidak pernah dipisahkan dari tauhid.

Membaca bukan sekadar menambah pengetahuan.

Membaca adalah jalan untuk mengenal kebesaran Allah.

Semakin banyak seorang muslim belajar, semakin ia menyadari betapa luas ilmu Allah dan betapa kecil dirinya di hadapan Sang Pencipta.

Inilah literasi yang diajarkan Al-Qur'an.

Bukan sekadar membaca huruf, tetapi membaca dengan hati yang mengingat Allah.

Rumah: Tempat Pertama Menumbuhkan Iqra'

Sering kali kita berharap sekolah mampu menjadikan anak gemar membaca.

Padahal kebiasaan itu justru tumbuh pertama kali di rumah.

Anak mencintai apa yang sering ia lihat.

Jika setiap hari ia melihat Ayah memegang gawai, ia akan meniru.

Jika setiap hari ia melihat Bunda membaca buku, ia pun akan penasaran.

Jika setiap malam keluarga meluangkan waktu membaca bersama, lambat laun membaca tidak lagi terasa sebagai tugas, melainkan menjadi bagian dari kehidupan.

Budaya literasi tidak dibangun dengan paksaan.

Ia tumbuh melalui keteladanan.

Karena itu, mungkin langkah terbaik bukan bertanya,

"Mengapa anak saya tidak suka membaca?"

Tetapi bertanya,

"Sudahkah anak saya sering melihat saya membaca?"


Abu SaRach 

Komentar