Bunda & Ayahanda…
Tiga hari lagi,
kita akan memasuki bulan mulia:
Dzulhijjah.
Bulan pengorbanan.
Bulan ketaatan.
Bulan ketika sejarah besar keluarga bertauhid
kembali hidup dalam ingatan umat Islam.
Bukan sekadar tentang hewan kurban.
Namun tentang hati.
Tentang keluarga
yang menjadikan Allah
lebih tinggi dari segalanya.
Bunda & Ayahanda…
Ketika kita mendengar nama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,
seringkali yang terbayang adalah
ketaatan luar biasa beliau.
Namun sejatinya,
bukan hanya Ibrahim.
Ini adalah kisah
tentang satu keluarga.
Keluarga bertauhid.
Ada Ibrahim,
seorang ayah
yang lebih memilih taat
daripada tunduk pada rasa beratnya perasaan.
Ada Hajar,
seorang ibu
yang percaya penuh
bahwa Allah takkan menelantarkan.
Ada Ismail,
seorang anak
yang begitu muda,
namun hatinya telah dipenuhi iman.
Bayangkan…
Saat Nabi Ibrahim menyampaikan
perintah penyembelihan kepada putranya.
Bukan paksaan.
Bukan ancaman.
Namun dialog Tauhid.
“Wahai anakku…
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi
bahwa aku menyembelihmu.”
Dan Ismail menjawab…
“Wahai ayahku…
laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.
InsyaAllah engkau akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang sabar.”
Allahu Akbar…
Inilah parenting tauhid.
Bukan sekadar anak patuh
karena takut dimarahi.
Namun anak yang taat
karena mengenal Allah.
Bunda & Ayahanda…
Seringkali kita fokus
pada perilaku anak.
Padahal yang lebih mendasar adalah:
siapa Rabb yang hidup di hati mereka.
Keluarga Ibrahim tidak dibangun
dalam sehari.
Ismail tidak tiba-tiba menjadi anak penuh iman.
Ada proses panjang.
Ada teladan.
Ada doa.
Ada keteguhan.
Ada Tauhid
yang hidup dalam rumah mereka.
Dzulhijjah mengingatkan kita…
Bahwa parenting terbaik
bukan sekadar membentuk anak sukses dunia.
Namun membentuk anak
yang ketika diuji,
tetap memilih Allah.
Karena dunia hari ini
mungkin menawarkan banyak keberhasilan.
Namun tanpa Tauhid,
anak mudah rapuh.
Sebaliknya,
anak yang mengenal Allah…
akan memiliki kekuatan
bahkan ketika dunia mengguncangnya.
Bunda & Ayahanda…
Mungkin kita tidak sedang diuji
dengan perintah penyembelihan.
Namun kita diuji setiap hari:
Saat harus sabar.
Saat harus konsisten.
Saat harus menahan emosi.
Saat harus mendidik,
meski lelah.
Dan setiap ujian itu
adalah kesempatan
membangun rumah bertauhid.
Maka menjelang Dzulhijjah ini…
Mari bertanya:
Apakah rumah kita
sedang menumbuhkan
anak-anak yang mengenal Allah?
Apakah anak melihat
ketaatan dalam diri kita?
Apakah mereka belajar
bahwa Allah lebih utama
daripada keinginan dunia?
Karena warisan terbesar
bukan hanya pendidikan.
Bukan hanya harta.
Bukan hanya prestasi.
Namun hati
yang terikat kepada Allah.
Bunda & Ayahanda…
Mari belajar dari Ibrahim,
Hajar,
dan Ismail.
Bahwa keluarga hebat
bukan keluarga tanpa ujian.
Namun keluarga
yang menjadikan Tauhid
sebagai fondasi utama.
Semoga Dzulhijjah kali ini
bukan hanya tentang berkurban.
Namun tentang memperbarui kembali
visi keluarga kita:
Membangun generasi
yang rela memilih Allah
di atas segalanya.
Maka malam ini,
bisikkan dalam doa:
“Ya Allah…
jadikan keluarga kami
keluarga bertauhid,
seperti keluarga Ibrahim.” 🤍
Wallahu a’lam
Hasbunallah wa ni’mal wakil 🤍
Barakallahu fiikum
Abu SaRach

Komentar
Posting Komentar