๐ AL KALAM #7
(Artikel Kamis Malam) - Keluarga Sekolah Anak Ajaib (KSAA)
Ayah yang Hadir Meski Tak Selalu di Samping
Bunda & Ayahanda,
Salah satu tantangan besar yang dihadapi keluarga hari ini adalah semakin berkurangnya kehadiran ayah dalam kehidupan anak.
Tidak selalu karena perceraian.
Tidak selalu karena kematian.
Tidak selalu pula karena ayah meninggalkan keluarga.
Sering kali, ayah masih ada di rumah, tetapi tidak benar-benar hadir dalam kehidupan anak-anaknya.
Ada yang sibuk bekerja sejak pagi hingga malam.
Ada yang lebih banyak berbicara dengan layar daripada dengan anaknya.
Ada yang memenuhi kebutuhan materi, tetapi jarang menyediakan waktu untuk mendengar isi hati putra-putrinya.
Akibatnya, banyak anak tumbuh tanpa figur yang membimbing, mengarahkan, dan menjadi tempat bertanya.
Mereka mencari teladan dari luar rumah.
Mencari pengakuan dari lingkungan.
Mencari jawaban dari media sosial.
Padahal, dalam fitrah penciptaannya, seorang anak membutuhkan sosok ayah yang dapat menjadi penunjuk arah kehidupannya.
Ketika berbicara tentang peran ayah, kita dapat belajar dari keluarga Nabi Ibrahim 'alaihissalam.
Menariknya, Nabi Ibrahim tidak selalu berada di sisi Ismail sepanjang masa pertumbuhannya.
Atas perintah Allah, beliau meninggalkan Hajar dan Ismail yang masih bayi di sebuah lembah tandus yang kelak menjadi Makkah.
Saat itu Nabi Ibrahim berdoa:
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati. Ya Tuhan kami, agar mereka melaksanakan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan agar mereka bersyukur."
(QS Ibrahim: 37)
Perhatikanlah.
Meskipun berpisah secara fisik, Nabi Ibrahim tidak pernah melepaskan tanggung jawab ruhiyah terhadap keluarganya.
Beliau meninggalkan mereka dengan doa.
Beliau menitipkan mereka kepada Allah.
Beliau memikirkan masa depan iman keturunannya.
Bahkan salah satu doa beliau yang diabadikan dalam Al-Qur'an adalah:
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat."
(QS Ibrahim: 40)
Inilah pelajaran penting bagi kita.
Kehadiran ayah tidak hanya diukur dari keberadaan fisik.
Kehadiran ayah juga terlihat dari perhatian, doa, kepemimpinan, dan arah hidup yang ia tanamkan kepada anak-anaknya.
Puncak keindahan hubungan ayah dan anak dalam keluarga Ibrahim tampak ketika Ismail telah tumbuh dewasa.
Allah berfirman:
"Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.'"
(QS Ash-Shaffat: 102)
Subhanallah.
Dalam ujian sebesar itu, Nabi Ibrahim tidak memerintah dengan kasar.
Beliau mengajak berdialog.
Beliau menghargai putranya.
Beliau membuka ruang komunikasi.
Dan Ismail menjawab:
"Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
(QS Ash-Shaffat: 102)
Jawaban itu lahir dari hubungan yang dibangun di atas iman, keteladanan, dan kepercayaan.
Bunda & Ayahanda,
Tidak semua ayah dapat selalu berada di samping anak-anaknya.
Namun setiap ayah dapat memilih untuk tetap hadir dalam kehidupan mereka.
Hadir dalam doa.
Hadir dalam perhatian.
Hadir dalam komunikasi.
Hadir dalam keteladanan.
Karena anak yang dekat dengan ayahnya akan lebih mudah menerima arahan.
Dan anak yang mengenal kasih sayang ayahnya akan lebih mudah mengenal kasih sayang Rabb-nya.
Semoga Allah menjadikan para ayah sebagai pemimpin yang membimbing keluarganya menuju surga sebagaimana teladan Nabi Ibrahim 'alaihissalam.
Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
✍️ Abu SaRach

Komentar
Posting Komentar