Tawakkal di Laut Malam
Perjalanan dimulai dari Bastiong Port sekitar pukul 22.00 WIT.
Malam itu laut terlihat gelap.
Sebuah kapal besar membawa penumpang meninggalkan Ternate menuju Bacan.
Lampu-lampu kapal memantul di permukaan air.
Angin laut berhembus pelan, sementara gelombang bergerak tenang di bawah badan kapal.
Tidak seperti perahu kecil, kapal ini terasa lebih kokoh.
Namun tetap saja… berada di tengah laut yang luas di waktu malam menghadirkan perasaan yang sama:
keterbatasan manusia.
Di dek kapal, Zuba memandang ke arah laut yang gelap, lalu bertanya,
“Ustadz Mohammad… kalau kita tidak melihat apa-apa seperti ini, bagaimana kapal ini tahu arah?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi dalam.
Tidak semua perjalanan terlihat jelas arahnya.
Tidak semua jalan diterangi cahaya.
Namun kapal tetap melaju.
Allah mengingatkan dalam Qur'an:
“Dan Dia-lah yang menjalankan kamu di darat dan di laut.”
(QS. Yunus: 22)
Zuba terdiam.
Sebagian penumpang mulai beristirahat.
Tubuh tertidur dalam kabin, mata terpejam tanpa mengetahui apa yang terjadi di luar.
Namun laut tetap luas.
Perjalanan tetap berjalan.
Dan tanpa disadari…
Allah tetap menjaga.
Manusia bisa tidur,
tapi penjagaan Allah tidak pernah tidur.
Waktu berlalu dalam diam.
Zuba saat mendarat di pulau Bacan
Sekitar pukul 06.00 WIT, cahaya pagi mulai muncul.
Kapal pun merapat di Babang Port, Bacan.
Fajar menyambut dengan tenang.
Seolah menjadi jawaban dari perjalanan malam yang panjang.
Zuba memandang langit yang mulai terang.
Mungkin mulai memahami…
bahwa tidak semua perjalanan harus terlihat jelas untuk bisa dijalani.
Kadang cukup dengan percaya.
π Pelajaran Hari Ini di Sekolah Anak Ajaib:
Tawakkal adalah tetap tenang meski kita tidak melihat arah, karena Allah yang menuntun perjalanan kita.
Abu SaRach
Coming soon, InsyaaAllah===> Seri#3
Bagi yang ketinggalan seri#1 bisa ke siniππ»


Komentar
Posting Komentar