๐ MISI DI TENGAH SEMESTER
Pagi itu, Zuba duduk di bangkunya sambil memandangi buku pelajaran.
Hari-hari sekolah terasa semakin sibuk. Tugas mulai bertambah, latihan semakin banyak, dan beberapa pelajaran terasa lebih sulit daripada biasanya.
Zuba membuka bukunya.
Di halaman itu ada beberapa soal yang harus ia kerjakan.
“Hmm...”
Zuba membaca soal itu sekali lagi. Kemudian sekali lagi.
Tetapi jawabannya belum juga ditemukan.
Zuba melirik ke arah teman di sebelahnya.
Temannya sudah hampir selesai. Pensilnya bergerak cepat dari satu baris ke baris berikutnya.
Zuba kembali melihat bukunya.
Tiba-tiba ia merasa tidak nyaman.
“Kenapa aku belum bisa, ya?”
Lebah Ajaib yang sejak tadi berada di dekat jendela tiba-tiba terbang mendekat.
“Bzzzz...”
Zuba tersenyum kecil.
“Jangan mengganggu dulu. Aku sedang berpikir.”
Lebah Ajaib justru hinggap di atas bukunya.
Zuba tertawa kecil. Lalu ia menarik napas panjang.
“Baiklah. Aku coba lagi.”
Beberapa menit kemudian, Zuba masih belum menemukan jawabannya.
Kali ini ia tidak memandangi teman di sebelahnya. Ia justru mengangkat tangannya.
“Bu Guru, boleh saya bertanya?”
Guru tersenyum.
“Tentu, Zuba. Bagian mana yang belum kamu pahami?”
Zuba menunjukkan soal tersebut. Guru kemudian menjelaskan langkahnya perlahan.
Ternyata ada satu bagian sebelumnya yang belum benar-benar dipahami Zuba. Karena itulah soal berikutnya terasa sulit.
“Oh... ternyata aku cuma belum paham bagian itu!”
Zuba mencoba mengerjakan kembali.
Kali ini ia menemukan jalannya.
Lebah Ajaib terbang berputar-putar di dekatnya.
“Bzzzz!”
Saat waktu belajar hampir selesai, Zuba melihat hasil pekerjaan temannya. Nilainya bagus.
Sesaat Zuba kembali merasa minder.
Tetapi kali ini ia tidak membiarkan perasaan itu menguasainya.
Ia teringat bagaimana tadi ia hampir menyerah. Kemudian ia teringat bahwa ia akhirnya berani bertanya.
“Aku tidak harus menjadi seperti dia.”
“Aku hanya perlu terus belajar menjadi lebih baik.”
Zuba tersenyum kepada temannya.
“Selamat ya. Besok aku mau belajar lagi.”
Sore harinya, Zuba duduk di rumah. Ia mengambil selembar kertas kecil.
Ia menulis empat hal:
๐ Berani bertanya ketika belum paham.
๐ช Mencoba lagi ketika gagal.
❤️ Tidak membandingkan diri dengan orang lain.
Lebah Ajaib hinggap di samping kertas itu.
“Bzzzz...”
Zuba tersenyum.
“Belum bisa bukan berarti tidak bisa.”
“Mungkin aku hanya perlu waktu, usaha, dan keberanian untuk bertanya.”
Kadang-kadang kita melihat teman yang lebih cepat memahami sesuatu. Kita lalu bertanya dalam hati, “Kenapa aku tidak seperti dia?”
Padahal setiap anak memiliki perjalanan belajar yang berbeda.
Ada yang cepat memahami. Ada yang perlu penjelasan lebih dari sekali. Ada yang harus mencoba berkali-kali.
Yang penting bukan selalu menjadi yang paling cepat.
Yang penting adalah terus bertumbuh.
Dan ketika kita mau belajar, berusaha, serta berani meminta bantuan ketika belum memahami sesuatu, insyaAllah setiap langkah kecil itu bernilai di sisi Allah.
Malam itu, Zuba menutup buku pelajarannya.
Hari itu ia tidak menjadi anak yang paling cepat selesai. Ia juga tidak mendapatkan nilai paling tinggi.
Tetapi Zuba merasa senang.
Karena hari itu ia berhasil mengalahkan satu hal: keinginan untuk menyerah.
Lebah Ajaib hinggap di dekat bukunya.
“Bzzzz!”
Zuba tertawa.
“Besok kita coba lagi.”
Dan malam itu Zuba tidur dengan satu keyakinan baru:
๐ฑ Tidak apa-apa jika hari ini belum bisa.
Yang penting, jangan berhenti belajar dan bertumbuh.
Yuk kembali mengikuti perjalanan Zuba dari awal.
๐ CERITA AJAIB ZUBA #1 ๐ฎ๐ฉ CERITA AJAIB ZUBA #2 ๐ฆธ♂️ CERITA AJAIB ZUBA #3 ❤️ CERITA AJAIB ZUBA #4๐ Cerita Ajaib Zuba
๐ Membaca • ๐ง Belajar • ๐คฒ Berbuat Baik • ๐ฑ Bertumbuh • ๐ Mendapat Apresiasi
Petualangan Kebaikan = Bernilai Ibadah
Komentar
Posting Komentar