🇮🇩 MERAH PUTIH DI HATIKU
Pagi itu, halaman rumah Zuba tampak berbeda.
Ada tali yang membentang dari satu tiang ke tiang lainnya. Beberapa bendera kecil berwarna merah dan putih bergoyang tertiup angin.
Zuba berdiri sambil membawa beberapa potongan pita.
Di dekatnya, Lebah Ajaib terbang berputar-putar.
“Bzzzz...”
“Pelan-pelan, sahabat Ajaibku,” kata Zuba sambil tertawa. “Kalau kamu terlalu cepat, nanti pitanya malah ikut terbang.”
Lebah Zuba berhenti sebentar di udara. Lalu hinggap di pagar.
Zuba melanjutkan pekerjaannya.
Hari itu warga kampung sedang mempersiapkan berbagai kegiatan untuk memperingati kemerdekaan Indonesia. Ada yang memasang bendera, membersihkan lingkungan, dan menyiapkan tempat untuk anak-anak.
Zuba senang sekali.
Tetapi ketika ia selesai memasang satu rangkaian hiasan, pandangannya tertuju pada bendera Merah Putih yang berkibar di depan rumah.
Ia terdiam.
“Lebah Ajaib...”
“Bzz?”
“Kenapa ya, setiap melihat Merah Putih, rasanya seperti ada sesuatu di hati?”
Lebah Ajaib Zuba mengepakkan sayapnya pelan.
Zuba menggaruk kepala.
“Apakah karena kita sedang merayakan kemerdekaan?”
Lebah Ajaib terbang mendekati bendera. Kemudian kembali kepada Zuba.
“Bzzzz...”
Zuba tersenyum.
“Mungkin bukan cuma karena benderanya.”
Ia mulai berpikir.
Beberapa saat kemudian, Zuba melihat seorang tetangga tua sedang membawa beberapa kardus.
Kardus itu terlihat cukup berat.
Zuba segera berlari menghampiri.
“Biar saya bantu, Pak!”
“Oh, terima kasih, Zuba.”
Zuba mengangkat salah satu kardus. Lebah Ajaib mengikuti dari belakang.
Setelah selesai, Zuba kembali ke halaman.
Namun baru beberapa langkah, ia melihat sesuatu di dekat selokan.
Beberapa bungkus makanan berserakan.
Zuba berhenti.
“Wah... ini harus dibersihkan.”
Ia mengambil kantong plastik dan mulai memungut sampah.
Lebah Ajaib pun ikut membantu dengan caranya sendiri.
Ia terbang ke sana kemari, seperti menunjukkan tempat-tempat yang masih kotor.
“Kalau kamu terus begini,” kata Zuba sambil tertawa, “kamu bisa jadi petugas kebersihan resmi!”
“Bzzzz!”
Zuba tertawa.
Menjelang siang, beberapa anak mulai berkumpul.
Salah seorang dari mereka berkata, “Nanti kalau lomba dimulai, kita bebas melakukan apa saja, kan?”
Anak-anak tertawa.
Zuba ikut tersenyum. Tetapi ia tiba-tiba teringat sesuatu yang pernah dikatakan Ayah.
Zuba memandang Merah Putih yang berkibar.
Kemerdekaan membuat bangsa ini bisa berdiri sebagai bangsa yang merdeka. Tetapi bagi seorang Muslim, kebebasan tetap harus digunakan dengan tanggung jawab.
Zuba berkata, “Menurutku, bebas itu bukan berarti boleh mengganggu orang lain.”
“Bebas itu juga berarti kita punya kesempatan memilih melakukan yang benar.”
Zuba kemudian menunjuk bendera.
“Jadi, menurutku, mencintai Indonesia bukan cuma memasang bendera.”
“Lalu apa?”
“Menjaga lingkungan. Membantu tetangga. Menghormati orang lain. Belajar sungguh-sungguh. Tidak menyakiti teman. Dan menggunakan kesempatan yang kita punya untuk melakukan kebaikan.”
Suasana menjadi hening sebentar.
Angin bertiup.
Merah Putih berkibar di atas mereka.
Sore harinya, Zuba duduk di teras. Lebah Ajaib hinggap di sampingnya.
Zuba memandang langit.
“Lebah Ajaib...”
“Bzz?”
“Aku baru mengerti.”
Zuba tersenyum.
“Tapi rasa syukur seharusnya ada di sini.”
Ia meletakkan tangan di dadanya.
Lebah Ajaib mengepakkan sayapnya.
“Bzzzz!”
Zuba tertawa.
“Besok kita berbuat baik lagi, ya?”
Lebah Ajaib terbang mengelilinginya.
Dan setiap kesempatan untuk berbuat baik adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri.
“Ya Allah, jadikan aku anak yang bersyukur. Jadikan kemerdekaan ini kesempatan bagiku untuk semakin banyak berbuat baik.”
Zuba belajar bahwa mencintai negeri bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan menjaga lingkungan, membantu sesama, menghormati orang lain, dan memilih melakukan kebaikan.
🇮🇩 Merah Putih di luar.
❤️ Rasa syukur di dalam hati.
Komentar
Posting Komentar