❤️ CINTA RASULULLAH ﷺ DALAM PETUALANGAN KEBAIKAN
Pagi itu, Zuba duduk di ruang tengah sambil memperhatikan Ayah yang sedang merapikan beberapa buku.
Di dekat jendela, Lebah Ajaib terbang berputar-putar seperti sedang mencari sesuatu.
“Bzzzz...”
Zuba tersenyum.
“Lebah Ajaib, tadi Ayah bercerita tentang Rasulullah ﷺ. Aku jadi ingin tahu... bagaimana cara kita menunjukkan bahwa kita benar-benar mencintai beliau?”
Saat itu Bunda sedang membawa beberapa pakaian yang baru selesai dilipat.
Salah satu tumpukan hampir jatuh.
Zuba segera berdiri.
“Biar Zuba bantu, Bunda.”
Ia mengambil sebagian pakaian dan membawanya ke kamar.
Lebah Ajaib mengikuti dari belakang.
“Bzzzz!”
Bunda tersenyum.
“Terima kasih, Zuba.”
Zuba merasa senang. Tetapi ia kemudian teringat pertanyaannya sendiri.
Lebah Ajaib mengepakkan sayapnya.
Zuba teringat cerita Ayah. Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk berbuat baik kepada keluarga.
Tiba-tiba Zuba memahami sesuatu.
“Berarti cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan cuma mengatakan ‘aku cinta Rasulullah’.”
Siang harinya, Zuba berada di sekolah.
Saat jam istirahat, ia melihat seorang temannya berdiri sendirian.
Buku-bukunya terjatuh dan beberapa lembar tugas berserakan di lantai.
Beberapa anak tertawa melihatnya.
Zuba hampir ikut tersenyum.
Tetapi ia teringat apa yang baru saja dipelajarinya.
Ia segera menghampiri temannya.
“Tidak apa-apa. Ayo aku bantu kumpulkan.”
Zuba memungut satu per satu buku dan kertas yang berserakan.
Temannya tersenyum lega.
“Kalau aku mencintai Rasulullah ﷺ, aku juga harus belajar memiliki akhlak yang beliau ajarkan.”
Bukan hanya ketika mudah.
Tetapi juga ketika ada pilihan antara melakukan kebaikan atau mengikuti teman.
Sore hari, Zuba melihat halaman sekolah masih dipenuhi beberapa kertas bekas.
Teman-temannya sudah pulang. Tidak ada guru di dekat sana.
Zuba memandang sampah itu.
Ia bisa saja meninggalkannya. Tidak akan ada yang tahu.
Lebah Ajaib terbang mendekat.
“Bzz?”
Zuba tersenyum.
“Tidak ada yang melihat, Lebah Ajaib.”
Ia terdiam sebentar.
“Tidak apa-apa. Allah melihat.”
“Kalau kita mencintai Rasulullah ﷺ, kita belajar melakukan kebaikan yang beliau ajarkan.”
Dan kebaikan yang dilakukan karena Allah tidak membutuhkan tepuk tangan manusia.
Malamnya, Zuba duduk bersama Ayah dan Bunda.
Ia menceritakan semua yang terjadi hari itu.
Ayah tersenyum.
“Bagus, Zuba. Mencintai Rasulullah ﷺ memang bukan hanya dengan kata-kata. Kita belajar mencintai beliau dengan mengikuti kebaikan yang beliau ajarkan.”
Zuba mengangguk.
Ia memandang Lebah Ajaib yang sedang hinggap di dekat jendela.
“Bzzzz...”
Zuba tersenyum.
Zuba kemudian berdoa agar Allah membuat hatinya semakin mencintai Rasulullah ﷺ dan semakin senang melakukan kebaikan.
“Ya Allah, jadikan aku anak yang mencintai Rasulullah ﷺ dan senang mengikuti kebaikan yang beliau ajarkan.”
Yuk ikuti petualangan Zuba dari awal.
🐝 CERITA AJAIB ZUBA #1 🇮🇩 CERITA AJAIB ZUBA #2 🦸♂️ CERITA AJAIB ZUBA #3
Komentar
Posting Komentar