AL KALAM #17 — Mewujudkan Cinta Rasulullah ﷺ dalam Pendidikan Anak
AL KALAM #17
Serial Parenting Tauhid Keluarga

Mewujudkan Cinta Rasulullah ﷺ
dalam Pendidikan Anak

Ada cinta yang tidak cukup hanya diucapkan.

Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar mengenal nama beliau, mengetahui kisah hidupnya, atau merasa kagum dengan akhlaknya. Cinta itu seharusnya perlahan-lahan hadir dalam cara kita hidup, dalam cara kita memperlakukan orang lain, dan dalam cara kita mendidik anak-anak.

Setelah belajar mengenal, menumbuhkan cinta, dan menghayati keteladanan Rasulullah ﷺ, ada satu langkah penting berikutnya:

Bagaimana cinta itu kita wujudkan
dalam pendidikan anak?

1. Dari Mengenal Menuju Mengamalkan

Anak bisa saja hafal nama Rasulullah ﷺ. Anak bisa mengenal kisah beliau. Anak bahkan bisa mengatakan bahwa ia mencintai Rasulullah ﷺ.

Namun pendidikan tidak berhenti pada apa yang diketahui. Kita ingin pengetahuan itu tumbuh menjadi sikap dan kebiasaan.

Dari tahu, tumbuh cinta. Dari cinta, lahir keinginan untuk mengikuti. Dan dari mengikuti, terbentuklah kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.

2. Rumah adalah Tempat Pertama

Sebelum anak belajar banyak hal dari sekolah, ia belajar tentang kehidupan dari rumah.

Anak memperhatikan bagaimana Ayah berbicara kepada Bunda. Bagaimana Bunda merespons ketika anak melakukan kesalahan. Bagaimana orang tua meminta maaf. Bagaimana keluarga memperlakukan orang yang lebih tua, saudara, tetangga, dan orang lain.

Karena itu, salah satu cara terbaik mewujudkan cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah menjadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya akhlak yang beliau ajarkan.

3. Keteladanan Lebih Kuat daripada Nasihat

Kita dapat berkali-kali mengatakan kepada anak, “Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk berkata jujur.”

Tetapi pesan itu akan jauh lebih kuat ketika anak melihat orang tuanya juga berusaha jujur.

Kita dapat mengajarkan kesabaran. Namun anak akan belajar lebih dalam ketika melihat orang tuanya berusaha tetap tenang ketika menghadapi masalah.

Kita dapat mengajarkan kasih sayang. Namun anak akan merasakan maknanya ketika ia diperlakukan dengan kasih sayang.

4. Guru dan Pendidik Juga Memiliki Peran

Pendidikan cinta Rasulullah ﷺ tidak hanya berlangsung di rumah.

Guru, ustaz, pembimbing, dan seluruh pendidik juga memiliki kesempatan untuk menghadirkan keteladanan itu dalam proses belajar.

Cara guru berbicara kepada murid, menghadapi kesalahan, memberikan apresiasi, menegur, dan memperlakukan anak yang berbeda-beda merupakan bagian dari pendidikan akhlak.

Anak tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari bagaimana seorang pendidik memperlakukannya.

5. Cinta yang Mendekatkan Anak kepada Allah

Ada satu hal penting yang tidak boleh terlewat: cinta kepada Rasulullah ﷺ harus tetap terhubung dengan tauhid.

Kita mencintai Rasulullah ﷺ karena beliau adalah utusan Allah. Kita mengikuti beliau karena beliau membawa petunjuk dari Allah.

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
QS. Al-Ahzab: 21

Maka ketika anak belajar meneladani Rasulullah ﷺ, arah akhirnya bukan sekadar menjadi anak yang terlihat baik, tetapi menjadi hamba Allah yang belajar taat kepada-Nya.

6. Berikan Anak Kesempatan untuk Mewujudkan Cinta

Jangan hanya meminta anak mengatakan, “Aku cinta Rasulullah ﷺ.”

Berikan mereka kesempatan untuk menunjukkan cinta itu melalui tindakan sederhana.

  • Belajar berkata jujur.
  • Belajar menyayangi sesama.
  • Belajar meminta maaf ketika bersalah.
  • Belajar memaafkan.
  • Belajar membantu orang lain.
  • Belajar menjaga adab dalam berbicara.
  • Belajar melakukan kebaikan meskipun tidak selalu mudah.

Dari hal-hal kecil itulah cinta dapat berubah menjadi kebiasaan.

7. Jangan Menuntut Anak Sempurna

Mewujudkan cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan berarti menuntut anak langsung menjadi sempurna.

Anak masih belajar. Mereka akan lupa. Mereka akan salah. Mereka kadang belum mampu mengendalikan emosi.

Tugas kita bukan sekadar menunjukkan kesalahan, tetapi membantu mereka kembali belajar.

Dengan kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan, kita mendampingi mereka sedikit demi sedikit.

8. Renungan untuk Ayah, Bunda, Guru, dan Pendidik

Mungkin kita ingin anak mencintai Rasulullah ﷺ.

Tetapi sebelum bertanya apakah anak sudah mencintai beliau, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

“Sudahkah cinta kita kepada Rasulullah ﷺ
terlihat dalam cara kita mendidik anak?”

Sebab pendidikan yang paling membekas sering kali bukan kalimat yang panjang, melainkan kehidupan yang dilihat anak setiap hari.

9. Penutup

Cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah karunia yang perlu dirawat.

Dalam pendidikan anak, cinta itu tidak harus selalu hadir dalam bentuk pelajaran yang berat.

Ia dapat tumbuh melalui kebiasaan kecil: cara kita berbicara, cara kita memperlakukan anak, cara kita meminta maaf, cara kita bersabar, dan cara kita mengajak mereka mengenal Allah.

Semoga rumah dan ruang pendidikan kita menjadi tempat di mana anak-anak tidak hanya mendengar tentang akhlak Rasulullah ﷺ, tetapi juga merasakan keindahan akhlak itu dalam kehidupan mereka.

Kita tidak hanya sedang mengajarkan anak
untuk mencintai Rasulullah ﷺ.

Kita sedang membantu mereka menemukan cara
untuk hidup dengan cinta itu.
Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
✍️ Abu SaRach
◉ Presented by:
"Unduh, Amalkan, Sebarkan...!"

Komentar