Meneladani Akhlak Rasulullah ﷺ
Bukan sekadar mengenang kelahirannya, tetapi menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan kita.
Kita sering mengatakan bahwa kita mencintai Rasulullah ﷺ.
Kita bershalawat. Kita membaca kisah perjuangan beliau. Kita mengenang kelahirannya. Kita merasa bahagia ketika nama beliau disebut, dan hati kita pun terasa lembut ketika mendengar kisah kasih sayangnya kepada umat.
Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:
Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi diri sendiri.
Bukan pula untuk membuat kita merasa bahwa kita sudah menjadi orang baik.
Justru sebaliknya.
Pertanyaan ini mengajak kita untuk kembali bercermin. Karena semakin kita mengenal Rasulullah ﷺ, semakin kita menyadari bahwa masih begitu banyak akhlak mulia yang perlu kita pelajari.
Kita semua masih belajar.
Kita belajar menjadi lebih sabar. Kita belajar menahan lisan. Kita belajar memaafkan. Kita belajar berlaku lembut kepada keluarga. Kita belajar jujur meskipun tidak ada yang melihat. Kita belajar menolong tanpa menunggu dipuji.
Dan semua itu adalah bagian dari perjalanan panjang untuk menghadirkan keteladanan Rasulullah ﷺ dalam kehidupan kita.
Rasulullah ﷺ dan Akhlak yang Menghidupkan
Allah ﷻ memberikan kesaksian yang begitu agung tentang Rasulullah ﷺ:
(QS. Al-Qalam: 4)
Akhlak Rasulullah ﷺ bukan sekadar sesuatu yang indah untuk diceritakan. Akhlak beliau adalah sesuatu yang hidup.
Ia terlihat dalam cara beliau berbicara. Dalam cara beliau memperlakukan anak-anak. Dalam kelembutan beliau kepada keluarga. Dalam kesabaran menghadapi orang yang berbeda. Dalam kejujuran ketika berurusan dengan manusia. Bahkan dalam cara beliau memperlakukan mereka yang pernah menyakiti beliau.
Karena itu, mencintai Rasulullah ﷺ seharusnya tidak berhenti pada rasa kagum.
Cinta semestinya perlahan-lahan berubah menjadi akhlak.
Dimulai dari Hal-Hal yang Sederhana
Kadang kita membayangkan bahwa meneladani Rasulullah ﷺ adalah sesuatu yang besar dan sulit.
Padahal mungkin kita bisa memulainya dari sesuatu yang sangat dekat.
Dari cara kita menjawab panggilan orang tua.
Dari cara kita berbicara kepada pasangan.
Dari kesabaran ketika anak melakukan kesalahan.
Dari keberanian mengatakan, “Maaf, tadi saya keliru.”
Dari kebiasaan mengucapkan salam.
Dari tersenyum ketika bertemu orang lain.
Dari tidak menyebarkan sesuatu yang belum kita ketahui kebenarannya.
Dari memilih kata-kata yang lembut ketika sebenarnya kita bisa saja membalas dengan kata-kata yang lebih tajam.
Mungkin terlihat kecil.
Tetapi bukankah kehidupan kita memang tersusun dari begitu banyak hal kecil?
Keteladanan Dimulai dari Rumah
Bagi kita yang menjadi orang tua, ada satu hal yang mungkin perlu direnungkan lebih dalam.
Anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat yang kita sampaikan. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Mereka melihat bagaimana kita berbicara ketika sedang marah.
Mereka melihat bagaimana kita memperlakukan orang yang membantu kita.
Mereka melihat apakah kita mudah memaafkan atau justru terus menyimpan kesalahan orang lain.
Mereka melihat bagaimana kita bersikap ketika tidak mendapatkan apa yang kita inginkan.
Maka mungkin salah satu cara terbaik mengenalkan Rasulullah ﷺ kepada anak bukan hanya dengan berkata,
Tetapi dengan berusaha menghadirkan sedikit demi sedikit kebaikan itu di dalam rumah kita.
Ketika anak melihat ayahnya meminta maaf, ia belajar kerendahan hati.
Ketika anak melihat ibunya tetap lembut meski sedang lelah, ia belajar kesabaran.
Ketika anak melihat kedua orang tuanya menolong tetangga, ia belajar kepedulian.
Dan ketika semua itu dikaitkan dengan cinta kepada Rasulullah ﷺ, anak tidak hanya mengenal nama beliau.
Anak mulai mengenal akhlaknya melalui kehidupan yang ia lihat.
Bukan Tentang Menjadi Sempurna
Kita mungkin belum mampu meneladani semuanya.
Kita masih bisa marah. Masih bisa salah bicara. Masih bisa kecewa. Masih bisa lalai. Masih bisa kalah oleh ego dan emosi.
Dan mungkin justru karena itulah kita membutuhkan keteladanan Rasulullah ﷺ.
Kita tidak sedang mengaku sudah menjadi seperti beliau.
Kita sedang belajar berjalan menuju akhlak yang beliau ajarkan.
Hari ini mungkin kita baru mampu menjaga satu ucapan.
Besok mungkin kita belajar memaafkan satu kesalahan.
Lusa mungkin kita belajar menahan amarah.
Sedikit demi sedikit.
Bukan untuk mendapatkan pujian manusia, tetapi karena kita ingin semakin dekat dengan jalan yang dicintai Allah.
Kalau Kita Mengaku Mencintainya...
Barangkali pada momentum Maulid ini, kita tidak hanya perlu bertanya kapan Rasulullah ﷺ lahir.
Kita juga perlu bertanya:
Apakah hati kita semakin mudah memaafkan?
Apakah kita semakin peduli kepada sesama?
Apakah rumah kita semakin dipenuhi kasih sayang?
Apakah anak-anak kita semakin mengenal akhlak mulia?
Sebab mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya tentang seberapa sering nama beliau kita sebut.
Tetapi juga tentang seberapa jauh kehidupan kita berusaha mengikuti jalan yang beliau tunjukkan.
Mari Belajar Bersama
Kita tidak ingin tulisan ini berhenti sebagai bacaan.
Kita ingin menjadikannya sebagai pengingat bagi diri kita sendiri.
Mari kembali mengenal Rasulullah ﷺ. Mari membaca kisah beliau. Mari mempelajari akhlaknya. Lalu mari memilih satu akhlak untuk kita perjuangkan hari ini.
Mungkin kesabaran.
Mungkin kejujuran.
Mungkin kelembutan.
Mungkin memaafkan.
Mungkin kepedulian kepada orang lain.
Tidak harus langsung sempurna.
Yang penting, kita mulai.
tetapi perlahan-lahan tumbuh menjadi akhlak dalam kehidupan.
Bismillah, kita belajar bersama. Kita berusaha bersama. Dan kita memohon kepada Allah agar setiap langkah kecil menuju kebaikan diberi keikhlasan, kekuatan, dan keberkahan.
Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat, menjadi amal yang barokah, dan mengantarkan kita semakin dekat kepada Rasulullah ﷺ serta semakin dekat kepada Allahﷻ.
Komentar
Posting Komentar