Liburan Ajaib Zuba #3

Rahasia di Halaman Rumah Nenek

Part#1

"Kadang, halaman rumah yang tampak biasa ternyata menyimpan pelajaran yang luar biasa. Asalkan kita mau melihatnya dengan mata yang penuh rasa ingin tahu dan hati yang penuh syukur."


Mentari pagi baru saja muncul di balik pepohonan.

Cahayanya yang keemasan menyelinap di sela-sela daun mangga yang rimbun. Butiran embun berkilau seperti mutiara kecil di ujung rumput. Udara terasa sejuk, segar, dan wangi. Aroma tanah yang masih lembap setelah hujan semalam bercampur dengan harum bunga melati yang tumbuh di sudut halaman.

Zuba membuka jendela kamarnya perlahan.

"MasyaaAllah..."

Ia menghirup udara pagi sedalam-dalamnya.

Di kota, Zuba sering terbangun karena suara kendaraan yang berlalu-lalang. Namun, di rumah Nenek, suara pertama yang menyambutnya adalah kicauan burung.

"Cuit... cuit... cuit..."

Seekor burung pipit hinggap di pagar bambu.

Tak lama kemudian, dua ekor burung gereja ikut bergabung di dekat tempat jemuran.

Mereka melompat-lompat kecil sambil mematuk sesuatu di tanah.

Zuba tersenyum.

Rasanya seperti sedang menonton pertunjukan kecil yang Allah siapkan setiap pagi.

"Zubaa..."

Suara lembut Nenek terdengar dari dapur.

"Sudah bangun, Nak?"

"Sudah, Nek."

"Kalau sudah cuci muka, temani Nenek ke halaman, ya."

"Baik!"

Dengan langkah ringan, Zuba segera menyusul.

Di teras, Nenek sudah menyiapkan dua buah gembor kecil berisi air.

"Nah, hari ini tanaman kita pasti haus."

Zuba menerima salah satunya.

"Memangnya tanaman bisa haus juga, Nek?"

Nenek tersenyum.

"Tentu saja."

"Allah menciptakan semua makhluk dengan kebutuhannya masing-masing."

Mereka mulai menyiram tanaman.

Air mengalir pelan ke dalam pot-pot bunga.

Tanah yang semula tampak kering perlahan berubah menjadi lebih gelap.

Daun-daun yang semula diam mulai bergoyang diterpa angin pagi.

Seekor kupu-kupu putih datang, berputar-putar di sekitar bunga kertas, lalu hinggap sebentar di bunga kenikir yang sedang mekar.

"Indah sekali..."

gumam Zuba.

Nenek tidak langsung menjawab.

Beliau justru memandang wajah cucunya yang sedang menikmati suasana pagi.

"Apa yang membuatmu bilang indah?"

Zuba berpikir sejenak.

"Karena bunganya warna-warni."

"Lalu?"

"Karena kupu-kupunya cantik."

"Lalu?"

"Karena udaranya enak."

Nenek mengangguk pelan.

"Itu semua benar."

"Tapi, ada satu hal yang paling indah."

"Apa itu, Nek?"

Nenek menunjuk ke seluruh halaman.

"Semua ini mengingatkan kita kepada Allah."

Zuba mengikuti arah tangan Nenek.

Pohon mangga.

Rumput hijau.

Bunga-bunga kecil.

Burung-burung.

Kupu-kupu.

Langit biru.

Semuanya seolah saling melengkapi.

Tiba-tiba Zuba teringat sesuatu.

"Nek..."

"Iya?"

"Siapa yang menyuruh bunga mekar?"

Nenek tersenyum.

"Allah."

"Siapa yang mengajari burung membuat sarang?"

"Allah."

"Siapa yang membuat pohon tahu kapan harus berbuah?"

"Allah juga."

Zuba terdiam.

Ia belum pernah memikirkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Selama ini ia hanya menikmati buah mangga.

Ia tidak pernah bertanya siapa yang membuat pohon itu mampu menghasilkan buah setiap musim.

Mereka melanjutkan menyiram hingga ke bagian belakang rumah.

Di sana, halaman berubah menjadi lebih teduh.

Pohon mangga yang besar menaungi hampir seluruh tanah di bawahnya.

Daunnya bergoyang perlahan setiap kali angin datang.

Tiba-tiba Nenek berhenti berjalan.

"Zuba."

"Iya, Nek?"

"Nenek mau menunjukkan sebuah rahasia."

Mata Zuba langsung membesar.

"Rahasia?"

"Iya."

"Rahasia apa?"

Nenek tersenyum sambil meletakkan gembor di atas tanah.

"Coba jongkok di sini."

Zuba menurut.

Ia mendekat ke sebuah batu besar yang sebagian permukaannya ditumbuhi lumut hijau.

Awalnya tidak ada yang terlihat istimewa.

Hanya tanah.

Rumput kecil.

Beberapa daun kering.

Dan ranting-ranting yang jatuh semalam.

"Perhatikan baik-baik."

Zuba menyipitkan mata.

Beberapa detik berlalu.

Lalu...

"Oh!"

Seekor semut hitam keluar dari balik batu.

Di belakangnya muncul semut lain.

Kemudian yang lain lagi.

Tidak lama kemudian terbentuklah sebuah barisan panjang.

Semut-semut kecil itu berjalan beriringan.

Ada yang membawa remah roti.

Ada yang memanggul serpihan daun.

Ada pula yang membawa sesuatu yang bahkan lebih besar daripada tubuhnya sendiri.

"MasyaaAllah..."

bisik Zuba.

"Semutnya banyak sekali."

Ia memperhatikan lebih saksama.

Anehnya, tidak ada satu pun semut yang saling bertabrakan.

Padahal jalannya sempit.

Mereka berjalan seperti sudah mengetahui tugas masing-masing.

"Kenapa mereka bisa serapi itu ya, Nek?"

Nenek ikut jongkok di samping Zuba.

"Itulah salah satu rahasia halaman rumah."

"Rahasia?"

"Iya."

"Halaman ini tidak pernah benar-benar sepi."

Zuba kembali melihat ke tanah.

Baru kali ini ia menyadari bahwa di balik rerumputan yang tampak biasa, ternyata ada kehidupan yang begitu sibuk.

Semut-semut itu terus berjalan tanpa mengeluh.

Tanpa berebut.

Tanpa saling mendorong.

Semuanya tampak bekerja sama.

Nenek mengambil sepotong kecil remah biskuit dari saku celemeknya.

Beliau meletakkannya beberapa langkah dari barisan semut.

Tidak sampai satu menit...

Beberapa semut segera menemukannya.

Mereka mengelilingi remah itu.

Lalu kembali ke barisan.

Tak lama kemudian datang lebih banyak semut.

Mereka bersama-sama mengangkat remah itu.

Zuba terkagum-kagum.

"Wah..."

"Mereka seperti saling memberi kabar."

Nenek tersenyum.

"Allah memberikan kemampuan kepada setiap makhluk sesuai yang mereka perlukan."

"Tidak ada yang sia-sia."

Zuba mengangguk pelan.

Ia memandangi semut-semut itu dengan wajah takjub.

Makhluk sekecil itu ternyata memiliki kehidupan yang begitu teratur.

Di dalam hatinya mulai muncul pertanyaan baru.

Kalau semut saja bekerja sama dengan sangat baik...

Lalu bagaimana dengan manusia yang Allah beri akal?

Part#2

Zuba masih berjongkok di dekat batu besar itu.

Matanya mengikuti barisan semut yang berjalan tanpa henti. Seekor semut kecil memanggul remah roti yang ukurannya hampir tiga kali lebih besar daripada tubuhnya. Di belakangnya, beberapa semut lain datang membantu. Mereka tidak saling berebut. Tidak pula saling mendorong. Seolah-olah masing-masing sudah mengetahui apa yang harus dikerjakan.

"MasyaaAllah..." bisik Zuba.

Ia benar-benar takjub.

"Nek, siapa yang mengajari semut-semut itu bekerja sama?"

Nenek tersenyum sambil ikut memperhatikan barisan semut.

"Menurut Zuba, apakah mereka pernah sekolah?"

Zuba menggeleng sambil tertawa kecil.

"Tidak."

"Punya guru?"

"Tidak juga."

"Lalu siapa yang mengajari mereka?"

Pertanyaan itu membuat Zuba terdiam beberapa saat. Pandangannya kembali tertuju pada semut-semut yang terus berjalan tanpa berhenti.

Kemudian ia menjawab pelan.

"Allah."

Nenek mengangguk.

"Betul sekali."

"Allah menciptakan setiap makhluk dengan petunjuk-Nya. Semut tahu cara bekerja. Burung tahu cara membuat sarang. Ikan tahu berenang sejak menetas. Lebah tahu bunga mana yang harus didatangi. Semua itu adalah bagian dari ilmu yang Allah berikan kepada makhluk-Nya."

Zuba memandang semut-semut itu dengan rasa kagum yang semakin besar.

Selama ini ia sering melihat semut lalu mengabaikannya. Bahkan terkadang ia mengusir mereka karena dianggap mengganggu.

Baru hari itu ia sadar, di balik tubuh mereka yang kecil tersimpan pelajaran yang sangat besar.

Mereka rajin.

Mereka disiplin.

Mereka bekerja sama.

Dan semuanya dilakukan tanpa ada yang menyuruh setiap saat.


Setelah cukup lama mengamati semut, Nenek mengajak Zuba berjalan ke sisi lain halaman.

Mereka melewati beberapa pot bunga yang tertata rapi di sepanjang jalan setapak. Bunga kertas berwarna merah muda bergoyang pelan diterpa angin. Di dekat pagar bambu, bunga kenikir dan bunga matahari kecil sedang bermekaran, seolah menyambut hangat datangnya pagi.

Tiba-tiba terdengar suara dengungan halus.

"Bzzzz..."

Seekor lebah melayang perlahan di atas bunga.

Ia hinggap beberapa saat, lalu berpindah ke bunga berikutnya.

Tak lama kemudian datang lagi seekor lebah lain. Lalu seekor lagi.

Mereka sibuk bekerja, tetapi tidak saling bertabrakan.

"Nek, kenapa lebah selalu datang ke bunga?" tanya Zuba penasaran.

Nenek mengambil posisi berdiri di samping cucunya.

"Mereka sedang mencari nektar."

"Nektar itu apa?"

"Cairan manis yang Allah simpan di dalam bunga."

"Untuk dibuat madu?"

"Iya, atas izin Allah."

Zuba mengangguk pelan.

Ia memperhatikan seekor lebah yang sedang merayap perlahan di atas kelopak bunga berwarna kuning. Tubuhnya yang kecil dipenuhi serbuk sari yang menempel seperti bedak halus.

"Nek, lebah itu mengambil dari bunga. Kasihan bunganya, ya?"

Nenek tersenyum.

"Justru bunga mendapatkan manfaat."

"Lho?"

"Ketika lebah berpindah dari satu bunga ke bunga yang lain, Allah menjadikannya sebagai perantara penyerbukan. Karena itulah banyak bunga akhirnya berubah menjadi buah."

Mata Zuba membulat.

"Berarti lebah membantu pohon menghasilkan buah?"

"Iya."

"Subhanallah..."

Ia menatap pohon tomat yang mulai dipenuhi buah-buah kecil berwarna hijau.

Selama ini ia hanya senang memetik buah yang sudah matang.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa sebelum buah itu muncul, ada makhluk kecil yang Allah tugaskan membantu prosesnya.

Setiap makhluk ternyata memiliki peran.

Tidak ada yang diciptakan sia-sia.


Langkah mereka berdua kemudian berhenti di bawah pohon mangga yang paling besar di halaman.

Batangnya begitu kokoh. Kulitnya dipenuhi guratan-guratan alami yang tampak semakin indah dimakan usia. Dari celah batang itu tumbuh lumut hijau tipis. Di beberapa bagian, semut-semut kecil naik turun mencari makan.

Zuba mendongakkan kepala.

Ranting-rantingnya menjulur ke segala arah, menaungi halaman dengan daun-daun hijau yang lebat.

Sinar matahari menembus sela-sela daun, membentuk bercak-bercak cahaya yang menari di atas tanah.

"Pohon ini besar sekali, Nek."

Nenek mengusap batang pohon itu dengan lembut.

"Dulu, ketika Ayahmu masih seusiamu, pohon ini sudah sering dipanjat."

"Benarkah?"

"Iya."

"Berarti pohon ini sudah melihat Ayah waktu kecil?"

Nenek tersenyum sambil mengangguk.

"Sudah."

"Ia juga melihat Paman bermain."

"Melihat Ibumu pertama kali datang ke rumah ini."

"Bahkan melihatmu ketika masih digendong."

Zuba memeluk batang pohon itu.

Permukaannya terasa dingin dan kasar di pipinya.

Ia membayangkan berapa banyak musim yang telah dilewati pohon tua itu.

Musim hujan.

Musim kemarau.

Angin kencang.

Bahkan mungkin badai.

Namun pohon itu tetap berdiri dengan tenang.

"Nek..."

"Kenapa pohon ini tidak mudah tumbang?"

Nenek tidak menunjuk batangnya.

Beliau justru mengarahkan pandangan ke tanah.

"Coba lihat apa yang ada di bawah."

Zuba memperhatikan.

Beberapa akar besar muncul dari permukaan tanah, tetapi hanya sedikit.

"Akarnya kecil ya?"

"Itu baru yang terlihat."

Nenek tersenyum lembut.

"Sebagian besar akar pohon justru berada jauh di dalam tanah."

"Di sanalah kekuatannya."

Zuba membayangkan akar-akar yang menjalar ke segala arah, mencengkeram tanah dengan kuat meskipun tak terlihat oleh mata.

Nenek lalu berkata pelan,

"Begitulah seharusnya seorang mukmin."

"Bukan sibuk memperindah yang tampak di luar."

"Tetapi memperkuat yang ada di dalam."

"Hati yang dipenuhi iman akan membuat seseorang tetap teguh, meskipun menghadapi banyak ujian."

Zuba mengangguk perlahan.

Angin kembali berembus.

Daun-daun mangga bergemerisik lembut, seakan mengamini nasihat Nenek.

Entah mengapa, sejak pagi itu halaman rumah Nenek terasa berbeda.

Bukan karena halamannya berubah.

Melainkan karena cara Zuba memandangnya yang mulai berubah.

Halaman itu kini bukan sekadar tempat bermain.

Di setiap sudutnya tersimpan pelajaran.

Di setiap makhluknya tersimpan tanda-tanda kebesaran Allah.

Dan Zuba mulai mengerti mengapa Nenek menyebutnya sebagai rahasia di halaman rumah.

Part#3

Matahari mulai bergeser ke arah barat.

Sinar keemasannya menembus sela-sela daun mangga, membentuk bercak-bercak cahaya yang menari di atas tanah. Angin bertiup pelan, membawa aroma daun yang hangat bercampur harum bunga melati yang mulai merekah.

Zuba dan Nenek melangkah perlahan meninggalkan pohon mangga tua.

Halaman rumah itu terasa semakin luas.

Bukan karena ukurannya berubah, melainkan karena setiap sudutnya kini seperti menyimpan cerita yang ingin didengar.

Di dekat pagar bambu, Nenek berhenti.

Beliau menunjuk sebuah tanaman rambat yang menjalar rapi mengikuti bilah-bilah pagar.

"Lihat yang ini, Zuba."

Daunnya kecil-kecil berbentuk hati. Di antara dedaunan hijau itu muncul beberapa bunga mungil berwarna ungu muda.

Zuba mendekat.

"Indah sekali, Nek."

"Tadi pagi bunga-bunga ini masih tertutup."

"Sekarang sudah mekar."

Nenek mengangguk.

"Allah membuat setiap bunga memiliki waktunya sendiri."

"Ada yang mekar saat matahari terbit."

"Ada yang baru membuka kelopaknya ketika sore."

"Bahkan ada bunga yang hanya mekar pada malam hari."

Zuba memandang bunga-bunga kecil itu dengan takjub.

Ia baru menyadari bahwa tidak semua bunga hidup dengan cara yang sama.

Padahal semuanya sama-sama indah.

"Berarti Allah memberi setiap bunga waktu yang berbeda?"

"Iya."

"Begitu juga manusia."

Zuba menoleh.

"Maksudnya, Nek?"

"Setiap anak punya waktu belajarnya."

"Ada yang cepat membaca."

"Ada yang pandai menggambar."

"Ada yang mudah menghafal."

"Ada yang senang membantu orang lain."

"Nenek tidak pernah meminta bunga melati menjadi bunga matahari."

"Karena Allah memang menciptakan keduanya berbeda."

Zuba mengangguk pelan.

Ia teringat temannya di sekolah yang pandai berhitung, sementara dirinya lebih senang membaca cerita.

Selama ini ia sering berharap bisa sehebat temannya itu.

Kini ia mulai mengerti.

Allah memberi kelebihan kepada setiap hamba dengan cara yang berbeda.


Mereka melanjutkan langkah menuju sudut halaman yang paling teduh.

Di sana terdapat sebuah gentong tanah liat yang menampung air hujan.

Permukaan airnya begitu jernih hingga bayangan awan tampak memantul di dalamnya.

Seekor capung biru melayang rendah.

Sayapnya yang bening berkilau diterpa cahaya sore.

Ia berputar beberapa kali sebelum akhirnya hinggap di bibir gentong.

"Capungnya cantik..." bisik Zuba, khawatir suaranya membuat capung itu terbang.

Beberapa detik kemudian, seekor capung lain datang.

Keduanya terbang berdampingan, berputar membentuk lingkaran kecil di atas permukaan air.

Riak-riak halus muncul ketika angin menyentuh gentong.

Bayangan langit ikut bergoyang.

"Kalau airnya keruh, bayangan langit tidak kelihatan ya, Nek?"

Nenek tersenyum.

"Betul."

"Air yang jernih memantulkan langit dengan jelas."

Beliau menatap wajah Zuba sejenak.

"Hati manusia juga begitu."

Zuba kembali melihat ke dalam gentong.

Ia bisa melihat wajahnya sendiri di permukaan air.

Kalau air berguncang sedikit saja, bayangan itu langsung berubah.

"Hati yang dipenuhi marah, iri, dan dengki akan sulit melihat kebenaran."

"Tetapi hati yang bersih akan lebih mudah menerima petunjuk Allah."

Zuba mengangguk pelan.

Ia tidak berkata apa-apa.

Nasihat itu masuk ke dalam hatinya seperti tetesan air yang perlahan meresap ke tanah.


Mereka kembali berjalan.

Langkah mereka berhenti di bawah pohon jambu yang sedang berbuah.

Beberapa buah masih berwarna hijau.

Sebagian lainnya mulai berubah kekuningan.

Di salah satu dahan, seekor burung kecil sedang mematuk buah yang sudah matang.

"Nek, burung itu sedang makan."

"Iya."

"Apakah itu tidak membuat kita rugi?"

Nenek justru tersenyum.

"Menurutmu, siapa yang memberi rezeki kepada burung itu?"

"Allah."

"Kalau begitu, buah itu memang sudah Allah tetapkan menjadi rezekinya."

Zuba memandangi burung kecil itu.

Ia makan sebentar, lalu terbang membawa sedikit bagian buah di paruhnya.

Mungkin untuk anak-anaknya di sarang, pikir Zuba.

Tiba-tiba ia teringat sebuah hadis yang pernah disampaikan Ustaz di masjid.

Tentang burung yang pergi pagi hari dengan perut kosong, lalu pulang sore hari dalam keadaan kenyang.

Sekarang, ia seperti melihat hadis itu hidup di depan matanya.

"Allah benar-benar memberi makan semua makhluk..." gumamnya lirih.

Nenek mendengar ucapan itu.

Beliau mengangguk sambil tersenyum.

"Karena Allah adalah Ar-Razzaq."

"Pemberi rezeki bagi seluruh makhluk-Nya."

Zuba memandang langit yang mulai berwarna jingga.

Semakin lama ia berada di halaman rumah Nenek, semakin ia merasa sedang membaca sebuah buku yang sangat besar.

Bedanya, buku itu tidak terbuat dari kertas.

Halaman-halamannya adalah daun-daun yang bergoyang.

Tulisan-tulisannya adalah jejak semut di atas tanah.

Kalimat-kalimatnya adalah suara burung yang berkicau.

Dan setiap lembar buku itu selalu mengajaknya mengenal Allah lebih dekat.

Tanpa terasa, senyum kecil menghiasi wajahnya.

Hari itu, Zuba menemukan bahwa rahasia terbesar di halaman rumah Nenek bukanlah sesuatu yang tersembunyi.

Rahasia itu ada di mana-mana.

Pada daun yang tumbuh.

Pada bunga yang mekar.

Pada semut yang bekerja.

Pada lebah yang terbang.

Pada burung yang mencari makan.

Semua sedang bercerita tentang kebesaran Allah kepada siapa saja yang mau memperhatikannya.


(Bagian 4 — Penutup)

Matahari perlahan turun di balik pepohonan.

Langit yang sejak siang berwarna biru kini berubah menjadi jingga keemasan. Cahaya senja menyelimuti halaman rumah Nenek dengan warna yang lembut. Bayangan pohon mangga memanjang di atas rumput, sementara angin sore membawa harum dedaunan yang mulai mengering.

Suasana terasa tenang.

Seolah-olah seluruh makhluk sedang bersiap menutup hari dengan cara mereka masing-masing.

Burung-burung kecil beterbangan kembali ke sarangnya.

Di kejauhan, terdengar suara ayam kampung yang mulai naik ke kandang.

Seekor kupu-kupu putih yang sejak pagi berkeliling di antara bunga kini hinggap diam di sehelai daun.

Zuba berdiri di tengah halaman.

Matanya berkeliling perlahan.

Ia memandang pohon mangga tua yang tadi dipeluknya.

Ia melihat kembali batu besar tempat barisan semut bekerja tanpa lelah.

Matanya lalu beralih ke bunga-bunga yang masih bergoyang pelan diterpa angin.

Semuanya masih sama.

Tidak ada yang berubah.

Tetapi hati Zuba terasa berbeda.

Halaman yang pagi tadi tampak seperti halaman biasa, kini terasa seperti sebuah kelas yang sangat besar.

Tanpa papan tulis.

Tanpa meja.

Tanpa bel sekolah.

Namun penuh pelajaran.

Nenek menghampiri sambil membawa sapu lidi.

Beliau mulai menyapu daun-daun kering yang gugur di bawah pohon.

"Zuba..."

"Iya, Nek."

"Kalau hari ini Nenek bertanya, apa rahasia halaman rumah ini, apa jawabanmu?"

Zuba tersenyum.

Ia tidak langsung menjawab.

Pandangannya kembali menyapu seluruh halaman, seakan sedang mengingat semua yang dilihatnya sejak pagi.

Barisan semut.

Lebah yang berpindah dari bunga ke bunga.

Burung yang mencari makan.

Akar pohon yang mencengkeram tanah.

Capung yang menari di atas air.

Semuanya seperti potongan-potongan cerita yang kini menyatu di dalam pikirannya.

Kemudian ia berkata pelan,

"Rahasianya bukan disimpan di bawah tanah, ya, Nek."

Nenek tersenyum.

"Lalu?"

"Rahasianya ada di mana-mana."

"Di semut."

"Di bunga."

"Di pohon."

"Di burung."

"Di semua ciptaan Allah."

Nenek meletakkan sapunya.

Wajah beliau dipenuhi senyum haru.

"Alhamdulillah."

"Itulah yang Nenek ingin Zuba temukan."

"Ternyata Allah tidak hanya mengajarkan kita lewat buku."

"Tetapi juga lewat alam."

Zuba mengangguk mantap.

Kini ia mengerti mengapa Nenek sering mengajaknya berjalan mengelilingi halaman, meskipun hanya beberapa langkah.

Bukan sekadar untuk melihat tanaman.

Melainkan agar hatinya belajar memperhatikan.


Tak lama kemudian, suara azan Magrib mulai terdengar dari masjid di ujung kampung.

"Allahu Akbar... Allahu Akbar..."

Suaranya mengalun lembut, terbawa angin sore.

Zuba menghentikan langkahnya.

Ia mendengarkan setiap kalimat azan dengan khusyuk.

Tanpa sadar, bulu kuduknya meremang.

Ia memandang langit yang perlahan berubah semakin redup.

Burung-burung telah kembali ke sarangnya.

Semut-semut pun menghilang ke dalam lubangnya.

Seakan seluruh makhluk sedang bersiap menyambut waktu untuk kembali mengingat Rabb mereka.

"Nek..."

"Iya?"

"Kalau semut, burung, dan pohon selalu menjalankan apa yang Allah perintahkan..."

Nenek memandang Zuba dengan lembut.

"Lalu manusia juga harus begitu, ya?"

Nenek mengusap kepala cucunya.

"Itulah sebabnya Allah memberi manusia akal."

"Agar kita mengenal-Nya."

"Mencintai-Nya."

"Dan memilih untuk taat kepada-Nya."

Zuba menundukkan kepala.

Hari itu ia merasa telah belajar banyak.

Bukan pelajaran Matematika.

Bukan Bahasa Indonesia.

Melainkan pelajaran yang membuat hatinya semakin mengenal Allah.

Ia tersenyum kecil.

Dalam hati, ia berjanji akan lebih sering memperhatikan ciptaan Allah.

Bukan hanya ketika sedang liburan di rumah Nenek.

Tetapi juga saat kembali ke rumah.

Mungkin di halaman rumahnya ada semut yang belum pernah ia perhatikan.

Mungkin ada burung yang setiap pagi berkicau di atap rumah.

Mungkin ada bunga kecil yang selama ini ia lewati begitu saja.

Kalau Allah menghadirkan begitu banyak tanda kebesaran-Nya di sekitar manusia...

Sayang sekali jika dilewatkan tanpa rasa syukur.

Sebelum masuk ke dalam rumah, Zuba menoleh sekali lagi ke arah halaman.

Angin sore kembali berembus.

Daun-daun mangga bergoyang pelan.

Seolah melambaikan tangan.

Zuba tersenyum.

"Terima kasih, ya... halaman rumah Nenek."

Mungkin halaman itu tidak bisa menjawab.

Tetapi Zuba yakin...

Allah telah menjawab rasa ingin tahunya melalui semua pelajaran yang ia temukan hari itu.

Hari mulai gelap.

Namun hati Zuba justru terasa semakin terang.


Hikmah Ajaib

Anak Ajaib, pernahkah kamu memperhatikan halaman rumahmu?

Mungkin di sana ada semut yang sedang bekerja sama.

Ada burung yang mencari makan.

Ada bunga yang mekar pada waktunya.

Ada daun yang gugur untuk memberi kesempatan tumbuhnya daun baru.

Semua itu bukan terjadi begitu saja.

Allah menciptakan setiap makhluk dengan tugas, manfaat, dan ketetapan yang sempurna.

Ketika kita belajar memperhatikan ciptaan-Nya, hati kita akan lebih mudah bersyukur dan semakin mengenal kebesaran Allah.

Karena itu, jangan hanya melihat alam dengan mata.

Lihatlah juga dengan hati yang ingin belajar.


Tadabbur Al-Qur'an

"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal."

(QS. Ali 'Imran: 190)

Allah mengajak kita menjadi anak yang senang berpikir, memperhatikan, dan bertafakkur. Setiap ciptaan-Nya adalah "ayat-ayat" yang mengingatkan kita akan kasih sayang, kekuasaan, dan kebijaksanaan-Nya.


Tantangan Ajaib Hari Ini 🌿

Besok pagi atau sore, ajak Ayah atau Ibu berjalan selama 10 menit di halaman rumah, kebun, atau taman terdekat.

Bawalah sebuah buku kecil, lalu tuliskan:

  1. Lima makhluk ciptaan Allah yang kamu temukan.
  2. Apa manfaat masing-masing makhluk itu?
  3. Pelajaran apa yang Allah ajarkan melalui makhluk tersebut?
  4. Setelah mengamatinya, doa atau rasa syukur apa yang ingin kamu ucapkan kepada Allah?

Pesan Ajaib Zuba

"Semakin sering kita memperhatikan ciptaan Allah, semakin kita sadar bahwa dunia ini bukan sekadar tempat bermain, tetapi juga ruang belajar untuk mengenal Sang Pencipta."

TAMAT



Mohammad AS. (Abu SaRach)



🌐Presented By :
Ibadah, Ilmu, dan Solusi Digital dalam Satu Pintu (Banyak GRATISnya)!

Komentar