SAA.News, Surabaya, 5 Juni 2026 / 19 Dzulhijjah 1447 H — Khutbah Jumat di Masjid Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya (YPAS) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Aslam (Dhilip) mengangkat tema “Hancurnya Sebuah Negeri”. Dalam khutbahnya, khatib mengingatkan bahwa kehancuran suatu negeri tidak datang secara tiba-tiba, melainkan merupakan akibat dari berbagai penyimpangan yang dilakukan masyarakatnya secara terus-menerus hingga mengundang murka Allah.
Mengawali khutbah, khatib menegaskan bahwa suatu negeri tidak akan ditimpa bencana dan kehancuran selama penduduknya masih mencintai serta membiasakan diri melakukan kebaikan dan kebajikan. Sebaliknya, ketika kemaksiatan, kezaliman, dan pengingkaran terhadap nikmat Allah menjadi budaya yang meluas, maka datanglah berbagai bentuk ujian dan azab sebagai peringatan.
Penyebab Turunnya Murka dan Azab Allah
Khatib menjelaskan beberapa sebab utama yang dapat mengundang murka Allah kepada suatu negeri.
1. Kufur Nikmat
Nikmat yang diberikan Allah semestinya disyukuri dan digunakan dalam ketaatan. Namun ketika manusia mengingkari nikmat tersebut, baik dengan lisan maupun perbuatan, maka nikmat itu dapat dicabut dan diganti dengan kesempitan hidup.
2. Menolak dan Mencaci Sunnah Nabi
Khatib mengutip firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 112–113 yang menggambarkan sebuah negeri yang awalnya hidup aman dan sejahtera, namun kemudian ditimpa kelaparan dan ketakutan karena penduduknya mengingkari nikmat Allah serta mendustakan para rasul-Nya. Sikap meremehkan, menolak, atau mencaci Sunnah Nabi Muhammad ﷺ termasuk bentuk penyimpangan yang dapat mendatangkan kebinasaan.
3. Bergelimang dalam Kesyirikan
Kesyirikan disebut sebagai kezaliman terbesar. Merujuk pada Surah Al-Kahfi ayat 59, khatib menjelaskan bahwa banyak umat terdahulu dihancurkan karena terus-menerus melakukan kezaliman dan kesyirikan. Ketika manusia menyekutukan Allah, maka fondasi keimanan yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat pun runtuh.
4. Pemimpin yang Zalim
Dalam Surah Al-Isra ayat 16, Allah menjelaskan bahwa kehancuran suatu negeri dapat terjadi ketika para pemimpinnya tenggelam dalam kefasikan dan kezaliman. Kepemimpinan yang tidak berlandaskan keadilan akan melahirkan kerusakan sosial, ketimpangan, serta hilangnya keberkahan dalam kehidupan masyarakat.
5. Merasa Aman dari Azab Allah
Khatib juga mengingatkan bahaya merasa aman dari makar dan azab Allah sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-A'raf ayat 97–99. Rasa aman yang berlebihan dapat membuat manusia lalai, menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa, dan tidak lagi memiliki rasa takut kepada Allah.
Azab Tidak Hanya Menimpa Pelaku Kemaksiatan
Pada bagian berikutnya, khatib mengutip firman Allah dalam Surah Al-Anfal ayat 25 yang memperingatkan agar kaum beriman mewaspadai fitnah dan azab yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja. Ketika kemungkaran dibiarkan tanpa upaya perbaikan dan nasihat, dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk orang-orang saleh yang berada di dalamnya.
Pesan ini menjadi pengingat penting bahwa amar ma'ruf nahi munkar bukan sekadar kewajiban individu, tetapi juga tanggung jawab sosial untuk menjaga keselamatan bersama.
Meneladani Kaum Nabi Yunus
Sebagai penutup, khatib mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kisah kaum Nabi Yunus ‘alaihissalam. Dalam Surah Yunus ayat 98 disebutkan bahwa ketika tanda-tanda azab telah tampak, mereka segera bertaubat dengan sungguh-sungguh. Karena taubat kolektif tersebut, Allah mengangkat azab yang hampir menimpa mereka.
Menurut khatib, kisah ini menunjukkan bahwa pintu taubat selalu terbuka selama manusia mau kembali kepada Allah dengan keimanan, penyesalan, dan perbaikan amal.
Pesan Utama Khutbah
Khutbah Jumat kali ini menegaskan bahwa kehancuran sebuah negeri bukan semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, atau bencana alam, melainkan berakar pada kerusakan moral dan spiritual masyarakatnya. Kufur nikmat, penolakan terhadap ajaran Rasulullah ﷺ, kesyirikan, kezaliman para pemimpin, serta rasa aman dari azab Allah merupakan faktor-faktor yang dapat mengundang murka-Nya.
Karena itu, setiap Muslim diajak untuk memperkuat tauhid, mensyukuri nikmat Allah, berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah, menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, serta senantiasa bertaubat. Dengan demikian, keberkahan, keamanan, dan kemakmuran suatu negeri dapat terus terjaga di bawah rahmat Allah سبحانه وتعالى.
Abu SaRach

Komentar
Posting Komentar